SKANDAL TERSEMBUNYI DI BALIK KECERDASAN BUATAN
Data Wall: Rahasia Kelam Perburuan dan Pemusnahan Jutaan Buku untuk Melatih AI
Rahasia yang Terbongkar Lewat Pengadilan
Sebuah dokumen perencanaan internal Anthropic dari awal 2024 menyebut rencana perusahaan untuk memindai secara destruktif semua buku di dunia, dengan nama sandi “Project Panama”. Dokumen pengadilan yang dikutip CounterPunch menyebut ambisi proyek ini sebagai upaya membangun sebuah perpustakaan pusat berisi semua buku di dunia untuk disimpan selamanya, agar isinya bisa dipilah-pilah kapan saja untuk melatih berbagai model AI yang sedang dikembangkan perusahaan. Namun dokumen itu, bersama sejumlah dokumen internal lain, secara eksplisit menyatakan keinginan agar proyek ini tidak sampai diketahui publik, dan meminta karyawan menghindari membicarakannya bahkan di lingkungan internal perusahaan sendiri. Kerahasiaan itu baru terbongkar ke publik pada Januari 2026, bukan lewat pengakuan sukarela, melainkan setelah hakim federal memerintahkan Anthropic membuka dokumen-dokumen tersebut dalam proses gugatan hak cipta Bartz v. Anthropic. Proyek ini dipimpin oleh Tom Turvey, mantan kepala kemitraan Google Books, yang direkrut Anthropic pada Februari 2024 untuk memburu buku sebanyak mungkin.
Dari Mana Buku-Buku Itu Didapat
Anthropic membeli buku fisik dalam jumlah besar dari penjual buku bekas, sering kali puluhan ribu eksemplar sekaligus, termasuk dari Better World Books dan World of Books yang berbasis di Inggris. Perusahaan sebetulnya sempat mempertimbangkan membeli langsung dari toko buku bekas ternama seperti Strand Book Store di New York, namun menurut laporan Washington Post, toko itu pada akhirnya tidak pernah menjual koleksinya ke Anthropic. Jalur lain yang terungkap adalah lewat ISBNdb, perusahaan pengelola metadata ISBN, yang sempat menawarkan jasa pengadaan buku fisik hingga skala satu juta buku sekaligus untuk perusahaan AI — meski ISBNdb kemudian membantah pernah benar-benar merealisasikan layanan tersebut. Jumlah pasti buku yang akhirnya dipindai beserta total biaya yang dikeluarkan Anthropic tidak diungkap secara rinci dalam dokumen yang dibuka ke publik.
Prosesnya: Dari Rak Buku Menjadi Data Latih
“Destructive scanning” adalah teknik memotong bagian jilid atau tulang punggung buku fisik menggunakan mesin pemotong bertenaga hidraulik, sehingga halamannya bisa dilepas dan dimasukkan ke mesin pemindai berkecepatan tinggi. Salah satu proposal dari kontraktor pemindaian yang dikutip dalam dokumen pengadilan mengusulkan target 500 ribu hingga dua juta buku dalam periode enam bulan saja. Setelah dipindai, sisa fisik buku yang telah rusak dijadwalkan diambil perusahaan daur ulang untuk diproses menjadi bubur kertas, sebuah langkah yang menurut sejumlah laporan sengaja dilakukan agar prosesnya tidak terkesan sekadar membuang-buang limbah. Ars Technica mencatat bahwa metode destructive scanning sebenarnya lazim dipakai pada operasi pemindaian skala kecil, namun skala yang dijalankan Anthropic disebut tidak lazim karena jauh lebih masif dari praktik umum di industri percetakan maupun perpustakaan.
Ketika Internet Tak Lagi Cukup untuk Memberi Makan AI
Pertanyaan mendasarnya: mengapa harus repot membeli dan menghancurkan buku fisik, alih-alih memakai data yang sudah tersedia gratis di internet? Para pedagang buku bekas yang diwawancarai media internasional menyebut fenomena ini dengan istilah “data wall”, yakni titik ketika seluruh teks berkualitas yang tersedia gratis di internet sudah habis dilahap untuk melatih model bahasa besar. Solusinya, menurut sejumlah laporan, adalah beralih ke sumber yang belum pernah tersentuh dunia digital sama sekali: buku cetak, termasuk yang tidak pernah diterbitkan ulang atau dipindai siapa pun sebelumnya. Buku-buku semacam ini dianggap bernilai tinggi justru karena orisinalitasnya, sesuatu yang tidak bisa didapat lagi dari sekadar mengeruk lebih dalam isi internet. Kebutuhan atas data “murni manusia” inilah yang disebut menjadi pemicu utama di balik perburuan agresif Project Panama.
Ironi di Balik Citra Perusahaan yang Menjunjung Etika AI
Ada kejanggalan yang disorot banyak pengamat: Anthropic selama ini membangun citra sebagai perusahaan AI yang paling vokal soal etika dan keselamatan, misalnya lewat sikap tegasnya menolak keterlibatan dalam pengembangan senjata otonom demi menjaga apa yang mereka sebut nilai-nilai demokratis. Sikap itu terasa tidak sejalan ketika publik mengetahui bahwa di saat bersamaan, perusahaan diam-diam menjalankan operasi pemusnahan jutaan buku fisik, termasuk kemungkinan sejumlah edisi langka yang sulit dicari penggantinya, demi kepentingan komersial melatih model AI. Kontradiksi antara citra transparansi yang digaungkan ke publik dan praktik yang sengaja disembunyikan inilah yang menjadi inti kritik banyak pengamat terhadap Anthropic, bukan semata soal legalitas pemindaiannya.
Kejanggalan yang Tercium di Toko Buku, dan Apa yang Ada di Baliknya
Dampak nyata dari perburuan ini mulai terasa di lapangan, jauh sebelum publik tahu penyebabnya. Barter Books, toko buku bekas di Northumberland, Inggris, yang biasanya menjual sekitar dua ribu hingga tiga ribu buku dalam sepekan, tiba-tiba menerima pesanan dengan jumlah setara hanya dalam satu hari dari sebuah perusahaan asal Kanada. Di Belanda, pemilik toko buku antik De Vries & De Vries di Haarlem, yang mengoleksi peta dan cetakan abad ke-16 dan ke-17, dihubungi pihak yang mengaku mewakili perusahaan bernama 2077AI asal Singapura dengan permintaan tiga ribu judul buku sekaligus. Banyak pedagang buku mengaku tidak bisa memastikan siapa sesungguhnya di balik pesanan-pesanan besar itu, karena transaksi kerap dilakukan lewat marketplace seperti Biblio yang menyamarkan identitas pembeli. Pola pembelian janggal semacam ini belakangan diketahui bukan kebetulan, melainkan bagian dari perburuan data yang sama juga dilakukan pemain lain di industri AI — termasuk jejak pengiriman buku langka yang dilacak menuju fasilitas pelatihan AI milik Amazon di Las Vegas, dan kasus Meta yang keputusan mengunduh koleksi bajakan LibGen-nya untuk melatih Llama 3 baru disetujui setelah eskalasi ke level CEO Mark Zuckerberg pada Desember 2023.
Ganti Rugi Rp 24 Triliun, tapi untuk Perkara yang Berbeda
Penting digarisbawahi, penyelesaian hukum senilai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 24 triliun) yang disepakati Anthropic pada 5 September 2025 dan mendapat persetujuan awal hakim William Alsup pada 25 September 2025 itu secara spesifik menyasar klaim pembajakan buku digital lewat LibGen dan Pirate Library Mirror (PiLiMi), bukan soal pembelian dan pemusnahan buku fisik lewat Project Panama. Anthropic membayar sekitar 3.000 dolar AS untuk tiap satu dari sekitar 500 ribu judul buku dalam kelas gugatan tersebut, dan disebut sebagai pemulihan hak cipta terbesar dalam sejarah Amerika Serikat oleh pengacara para penulis, Justin Nelson. Adapun soal pembelian buku fisik untuk dipindai lalu dimusnahkan, hakim federal justru menyatakan praktik tersebut termasuk fair use dan sah secara hukum — sehingga meski kontroversial secara etika, praktik destructive scanning ini kemungkinan besar akan terus berlanjut, baik oleh Anthropic maupun pemain lain di industri AI, tanpa konsekuensi hukum serupa.
Daftar Rujukan
Lengkapi tautan, tanggal akses, dan verifikasi angka sebelum publikasi. Butir bertanda REQUOTE wajib dikonfirmasi ke media asal sebelum kutipan langsung digunakan.
• The Washington Post — “Anthropic ‘destructively’ scanned millions of books to build Claude”, 27 Januari 2026. [liputan media/dokumen pengadilan]
• CounterPunch — “Project Panama: Scanning and Book Destruction at Anthropic”, 10 Agustus 2026. [analisis/opini, mengutip dokumen pengadilan]
• Countercurrents & International Policy Digest — versi republikasi analisis CounterPunch soal Project Panama. [analisis/opini]
• Ars Technica — “Anthropic destroyed millions of print books to build its AI models”, Juni 2025. [liputan media/putusan pengadilan]
• Snopes — “Are AI companies scanning and destroying millions of books, including rare titles?” [fact-check, mengutip dokumen internal Anthropic]
• kumparan.com — “Destructive Scanning, Cara Claude Hancurkan Jutaan Buku demi AI”, 31 Juli 2026. [liputan media, memuat kasus paralel Meta]
• CNN Indonesia — “Perusahaan AI Hancurkan Jutaan Buku Fisik, Ini Tujuannya”, 10 Agustus 2026. [liputan media]
• tirto.id — “Menghancurkan Buku demi Kecerdasan Semu”, 13 Agustus 2026. [analisis, angle ironi etika Anthropic, kasus toko buku Belanda]
• CNBC Indonesia — “Fenomena Ribuan Buku Diborong Buat Dimusnahkan Setiap Hari Bikin Geger”, 19 Agustus 2026. [liputan media, kasus Barter Books & Amazon]
• Fortune — liputan soal penjual buku Belanda dan praktik destructive scanning industri AI, 31 Juli 2026. [liputan media]
• Insights Integration — “Project Panama: Why an AI Company Anthropic Bought and Destroyed Millions of Books”, 5 Agustus 2026. [analisis]
• Putusan dan dokumen kasus Bartz v. Anthropic PBC, No. 3:24-cv-05417-WHA (N.D. Cal.), Hakim William Alsup. [dokumen pengadilan resmi]
• Authors Guild & Lieff Cabraser — rilis resmi soal penyelesaian $1,5 miliar, September 2025. [rilis organisasi/firma hukum]


